Fenomena Umrah Kaum Muda

oleh -379 views

Royalnews – Harus diakui, animo kaum muslim Indonesia untuk beribadah ke Tanah Suci kian tinggi. Malah, beberapa tahun belakangan ini, umrah menjadi tren baru bagi kalangan muda-mudi. Pasalnya, jika dulu, ibadah ke Tanah Suci itu identik dengan kalangan orangtua, namun kini golongan anak muda mendominasi.

Rupanya, kenikmatan yang direngkuh saat beribadah di tanah kelahiran baginda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) mulai digandrungi kaum muda. Mereka kini tak lagi menjadikan hura-hura mengisi liburannya. Tapi lebih memilih larut dalam kesyahduan kala thawaf keliling kabah, berlari-lari kecil saat sai serta tahallul, atau ketika berebut bersimpuh di raudhah Masjid Nabawi –yang menjadi dambaan setiap manusia.

Kedatangan mereka umrah ke Baitullah di usia muda dan kerap dianggap masih punya banyak waktu yang panjang untuk ibadah, bukan sekadar penegasan status sosial atau lawatan biasa. Tapi, mereka sadar bahwa ibadah sekaligus perjalanan spiritual sebagai tujuan utamanya. Sebab, selagi masih muda, meski hidup dan mati itu rahasia Ilahi, sejatinya umrah di usia muda akan mendukung pelaksanaan ibadah fisik saat berumrah. Sehingga, ibadah pun akan terasa lebih mudah dan lancar.

Di samping itu, menjamurnya biro travel menjadi pemicu tumbuhnya minat umrah di kalangan umat muslim muda. Biro perjalanan saling berlomba merangkul kaum muda untuk pergi ke Tanah Suci. Biasanya mereka pun menawarkan fasilitas dan program yang disukai kaum muda. Sehingga banyak di kalangan remaja hingga eksekutif muda yang rela menyisihkan sebagian penghasilannya demi bisa beribadah ke Tanah Suci.

Pergi ke Tanah Suci memang untuk ibadah, tapi Kota Mekkah dan Madinah pun sarat dengan tempat-tempat wisata religi yang bisa dikunjungi. Kadang tak berhenti sampai di situ, banyak biro travel yang menambahkan lawatan ke destinasi yang ada di sekitar jazirah Arab atau bahkan ke Eropa masuk dalam paket perjalanan. Tentu, selain mendapatkan pengalaman perjalanan spiritual, tak sedikit diantaranya menjadikannya sebagai ajang wisata seperti pada umumnya.

Jadi, selain bisa menjalani aktivitas ibadah di Tanah Suci sepuasnya, menikmati jalan-jalan di pasar tradisional atau pusat-pusat bisnis untuk belanja oleh-oleh, mencicipi makanan khas Arab, kerap mewarnai perjalanan religi kaum muda. Meski ada juga yang lebih menitik beratkan pada ibadahnya saja. Tapi tak sedikit pula yang memanfaatkan perjalanan religi ini sekaligus berbelanja. Sebab, baik Mekkah, Madinah maupun Jeddah, tiga kota yang disinggahi selama haji maupun umrah dikenal sebagai kota dengan wisata belanja yang tak kalah modern.

Bagi sebagian kaum muslim yang pernah menginjakkan kaki dan merasakan kenikmatan beribadah di Tanah Suci, pastinya akan merasakan kerinduan yang luar biasa untuk kembali. Tak sedikit kalangan pasangan keluarga muda yang mengagendakan waktu liburnya untuk kembali mengunjungi Baitullah. Seperti yang dilakukan oleh Desriyanti, pengusaha muda asal Bengkulu ini setidaknya setahun sekali menunaikan ibadah bersama suami. Kebiasaan itu sudah berjalan lima tahun terakhir ini. Baginya, keberangkatannya ke Tanah Suci tak lain untuk meningkatkan keimanan dan menyeimbangkan hidup. “Alhamdulillah, kita selalu menjadwalkan setahun sekali minimal bisa umrah,” kata pengusaha kontraktor ini.

Baginya, soal kenaikan biaya umrah yang memang berpatokan pada kurs dollar,  tak terlalu dipusingkan. Pasalnya hal itu masih dianggap wajar mengingat kurs dollar terhadap rupiah terus naik. Yang jelas, selama pelayanan dan fasilitasnya sebanding dengan harga yang ditawarkan, tidak jadi masalah. Meski sudah berkali-kali umrah, biasanya eksekutif muda seperti dirinya ingin kembali berumrah dengan keluarga besar, kolega atau rekan-rekan bisnis.

Menurut Direktur Utama Hegar Travel, Abdu Gani Ergana, membenarkan bahwa sejak lima tahun terakhir tren umrah di kalangan kaum muda terus meningkat. Peningkatan ini seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat Indonesia terlebih di kalangan usia produktif. Menjamurnya biro travel dan masa tunggu haji yang kian lama juga mempengaruhi kondisi tersebut. Sebab, di tengah kesadaran umat untuk menjalankan ajaran agama, lalu didukung dengan gencarnya biro travel menggaet jamaah ini ikut menggaungkan gerakan untuk ke Tanah Suci selagi muda.

Bahkan tidak hanya biro travel yang berlomba menggaet calon jamaah, industri pendukung haji dan umrah pun turut mendorong pertumbuhan. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi kaum muslim yang berkembang pesat, pihak perbankan pun kian gencar menawarkan solusi pendanaan haji dan umrah. “Tidak heran bila perbankan juga mengeluarkan produk tabungan haji atau umrah golongan junior. Dengan harapan sembari menunggu antrean, tabungan itu terkumpul di saat usianya sudah mencukupi,” katanya.

Tingkat ekonomi

Bagi kalangan muda, apalagi eksekutif muda yang biasa traveling ke luar negeri menganggap biaya ibadah haji maupun umrah tidak lebih mahal dibanding lawatan ke benua Amerika atau Eropa. Sejatinya, baik haji maupun umrah, bisa menjadi gayung untuk meraih kewajiban sebagai muslim, sekaligus bonus wisata.

Melakukan perjalanan wisata religi yang sarat ibadah, sebutan lain dari umrah kini tak lagi dominasi kalangan berduit saja. Terlebih ibadah haji yang memang menjadi rukun Islam bagi yang mampu. Pasalnya, selain tingkat kesadaran keislaman yang meningkat, lalu tradisi keislaman masyarakat Indonesia yang masih kuat, meningkatnya perekonomian umat menjadi pemicu tumbuhnya permintaan haji dan umrah. Apalagi kini masyarakat kalangan menengah Indonesia terus meningkat. Banyak pihak meyakini, masyarakat golongan ekonomi menengah ini lebih banyak berkontribusi dalam peningkatan jumlah jamaah haji dan umrah Indonesia.

Boston Colsulting Group (BCG) Singapura mencatat bahwa Indonesia diprediksi akan memiliki kelas menengah yang didominasi kaum muda, relatif sejahtera dan berdaya beli tinggi pada 2020 mendatang. Golongan kelas menengah ini akan menembus angka 140 juta orang, atau naik dua kali lipat dari sekarang yang baru 74 juta. Tak heran, bila meningkatnya pertumbuhan kelompok ini, memicu pula pada peningkatan haji dan umrah.

Pertumbuhan ini dipicu tidak hanya oleh stabilitas ekonomi saja, juga lantaran postur demografi Indonesia di masa depan akan didominasi kalangan usia produktif. Setidaknya, jika saat ini 62% penduduk Indonesia berada di usia produktif (20-65 tahun), maka sisa 27% lainnya yang berusia di bawah 15 tahun akan menjadi penopang kelas menengah. Secara keseluruhan masyarakat ekonomi menangah ini cukup signifikan dampaknya terhadap pemintaan perjalanan ibadah haji dan umrah, termasuk wisata muslim.

Kementerian Agama (Kemenag) mencatat, jumlah jamaah umrah setiap tahunya selalu naik hampir 100%. Dan tahun 2016 kemarin, menembus angka 850 ribu orang. Sementara jamaah haji sekitar 200 ribu hingga 216 ribu jika tidak ada pemotongan kuota 20%. Lantaran masih ada pemangkasan kuota akibat perluasan Masjidil Haram, kafilah jamaah haji Indonesia berjumlah 168 ribu.

Hingga kini untuk bisa menunaikan haji reguler, masyarakat harus antri antara 10-15 tahun, bahkan ada yang lebih dari 20 tahun. Sedangkan untuk haji khusus, setidaknya mereka musti menunggu antrian hingga enam tahun, dengan daftar tunggu yang telah mencapai 89 ribu orang, sementara kuotanya hanya 13 ribu saja.

Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (Himpuh), Baluki Ahmad menegaskan meningkatknya minat masyarakat muslim untuk berhaji dan umrah merupakan dampak dari bertambahnya kelas menengah. Biasanya peningkatan ini terlihat ketika memasuki musim liburan atau Ramadhan.

Di tahun 2016 saja, lanjut Baluki, pihaknya mencatat jumlah jamaah umrah mencapai 850 ribu orang. Dan puncaknya, terjadi saat memasuki bulan Ramadhan. Biasanya kaum muslim Indonesia, khususnya golongan muda memanfaatkan momen Ramadhan untuk umrah. Sebab banyak kalangan meyakini umrah di bulan suci Ramadhan, berpahala haji.

Sebagai pelaku usaha di bidang penyelenggaraan haji dan umrah, Baluki paham setiap pengelola travel umrah telah menyiapkan strategi khusus untuk memikat kalangan muda. Terlebih, saat ini kemampuan ekonomi dan daya beli masyarakat lebih cenderung memilih fasilitas dan akomodasi yang aman, nyaman dan menyenangkan saat beribadah maupun mengakses tempat-tempat suci di Tanah Suci. “Walaupun mahal, tetap ada saja peminatnya. Sebab yang mereka cari adalah kenyamanan saat beribadah, dan menikmati perjalanan spiritual mereka,” kata Baluki yang tak menampik kondisi tersebut sebagai peluang bagi pelaku bisnis travel.

Menurutnya, selain faktor lamanya waiting list (daftar tunggu) haji, ternyata yang tak bisa dipungkiri adalah tradisi keislaman masyarakat Indonesia yang masih kuat. Sehingga, sebagian kalangan masyarakat beranggapan sembari menunggu datangnya giliran berangkat haji, lebih baik memilih umrah terlebih dulu sebagai wujud haji kecil.

Memang, BCG menggarisbawahi bahwa aren yang didominasi kelas sosial menengah di negeri ini masih berkisar di wilayah Jakarta dan daerah penyangga ibukota seperti Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang. Selain itu, kelas menengah juga tersebar di kota Bandung, Surabaya, Medan dan Makassar. Sementara kelas menengan di kota-kota lain seperti di wilayah Sulawesi diproyeksikan akan tumbuh pesat hingga 2020.

Setidaknya, BCG memperkirakan jika saat ini baru ada 12 kota besar di Indonesia yang memiliki lebih dari satu juta kelas menengah, maka pada 2020 nanti jumlahnya akan melonjak hingga 22 kota. Sementara data lain menyebutkan bahwa di tahun 2012 saja, populasi muslim Indonesia mencapai 90% dari 248 juta jiwa. Sekitar 58,5% diantaranya tergolong kelas menengah, dengan tingkat kosumsi sebesar US$ 2–US$ 20 per hari. Kondisi ini, dinilai Baluki akan mempengaruhi permintaan peningkatan layanan jasa umrah dan haji.

Program

Biasanya, program umrah yang digandrungi kalangan muda tak lepas dari adanya momentum. Seperti misalnya umrah akhir tahun, sekaligus menyambut tahun baru. Tak sedikit  biro travel yang menggaet jamaah umrah yang menyasar segmen anak muda dengan menggelar umrah dalam rangka menyambut datanganya malam tahun baru. “Tak terbayang nikmatnya jika di malam pergantian tahun itu menyebut asma Allah, sembari thawaf di Kabah,” Direktur Cahaya Travel, Asep Tirta terkait program umrah akhir tahun.

Menurutnya, momen ini merupakan kesempatan emas bagi kaum muda bisa bermalam tahun baru di Baitullah, selagi melaksanakan ibadah umrah. Sebab, jika dibanding tujuh hingga delapan tahun lalu, pembukaan awal umrah selalu setelah berakhirnya bulan Desember, antara bulan Januari dan Februari. Tapi kini, pembukaan musim umrah dimulai awal Desember. Sehingga bagi umat Islam khususnya kaum muda yang berminat melakukan ibadah umrah di malam tahun baru, bisa dilakukan.

“Dan ternyata, animo umat Islam untuk menunggu kesempatan ini begitu besar. Buktinya, banyak masyarakat Indonesia yang melewati pergantian malam tahun baru itu di Tanah Suci. Dan justru peminatnya banyak dari kalangan anak muda,” katanya.

Selain program umrah akhir tahun, biasa yang digandrungi kalangan anak muda dan remaja adalah umrah liburan. Boleh jadi waktu liburan yang dimaksud adalah liburan sekolah, atau liburan akhir tahun sebagaimana yang kerap dimanfaatkan biro travel untuk memformat kegiatan umrah di akhir tahun.  Tak sedikit, kalangan remaja dan pemuda mengisi waktu liburnya untuk berumrah. Biasanya selain berangkat umrah bersama keluarga, mereka pun kerap mengadakan umrah bersama teman-teman.

Dalam pelaksanaanya, tidak musti mengikuti paket yang disediakan oleh biro travel. Banyak diantara mereka melakukannya dengan cara backpacking, apalagi bagi yang berjiwa petualang. Fenomena umrah backpacker pun kini kian digandrungi banyak kaum muda. Sehingga tak heran bila, biro perjalanan haji dan umrah berlomba menawarkan paket umrah backpacker. Selain berbiaya murah, konon sensasi pengalaman berpetualang sekaligus umrah lebih seru.

Adi Habibi, seorang mahasiwa salah satu perguruan tinggi ternama di ibukota yang melakukan umrah backpacker pada 2014 lalu mengamini serunya perjalanan religi itu. Selain bisa menunaikan ibadah umrah, ia pun banyak mendapat pengalaman dari negara-negara yang disinggahinya selama menjadi backpacker. “Selain faktor biaya yang terbatas, keinginan untuk menginjakkan kaki di Tanah Suci begitu besar, akhirnya kita berempat berangkat umrah dengan cara backpacker. Apalagi sekarang ini jamannya backpacker,” katanya.

Di samping umrah yang dilakukan secara mandiri, ada beberapa biro travel yang menghadirkan sosok public figure, selebriti atau tokoh yang memiliki pengaruh dalam paket umrah baik reguler maupun plus yang dijualnya. Tentu, kehadiran public figure tersebut, selain menjadi magnet tersendiri bagi jamaah, juga dianggap sebagai upaya branding. Yang jelas, dengan menggandeng ‘sosok’ dalam sebuah paket umrah, biasanya biro perjalanan harus bermodal cukup. Setidaknya, untuk membayar sekaligus memfasilitasi orang yang dijadikan ambassador tersebut.

Tren umrah juga tidak hanya menggejala di kalangan keluarga pasangan muda yang mengarahkan waktu liburnya untuk umrah. Kini tren umrah juga merambah di kalangan pelaku bisnis. Selain pebisnis itu sendiri yang menjadikan umrah sebagai salah satu agenda rutin tahunannya, mereka juga biasanya memberikan reward bagi karyawan terbaiknya dengan umrah. Ada pula yang menyisihkan sebagian keuntungan dengan memberangkatkan karyawan secara bergiliran.

Masih terkait fenomena umrah adalah aktivitas umrah singkat yang dilakukan kalangan eksekutif muda. Pasalnya, selain sibuk pekerjaan, biasanya kalangan eksekutif muda tak punya banyak waktu untuk sekadar jalan-jalan, atau umrah yang reguler saja memakan waktu minimal sembilan hari. Namun, dewasa ini banyak kalangan eksekutif muda yang mensiasatinya dengan menyingkat waktu perjalanan umrah. Biasanya berangkat Kamis atau Jumat, lalu di hari Minggu sudah pulang lagi. Umrah itu dilaksanakan cukup tiga hingga lima hari dengan hanya menjalankan yang wajib saat umrah tanpa program tambahan.

Memang, diakui atau tidak, kebiasaan traveling yang tengah tren di masyarakat kelas menengah, khususnya kaum muda telah mengubah cara pandang kaum muslim tentang umrah. Umat Islam banyak memilih berlibur sekaligus beribadah. Tak sedikit diantara mereka yang berkantong tebal memilih paket umrah plus wisata. Lain halnya bagi mereka yang dananya terbatas atau berjiwa petualang, lebih suka berumrah ala backpacker.

Jadi, pada dasarnya kalaulah motivasi untuk berlibur sambil ibadah ataupun sebaliknya bukanlah hal yang menyalahi aturan. Hanya saja, aktivitas liburan pun musti yang memberi manfaat, bukan kegiatan hura-hura. Dan harus diakui pula, pengenalan ibadah plus wisata, kini menjadi mentradisi di kalangan kaum muda yang notabene lebih modern. (zie)