Destinasi Wisata Syariah di Ibukota Jakarta

oleh -

Royalnews – Boleh jadi, sejauh mata memandang, hanya tampak deretan gedung-gedung menjulang. Tak heran, bila Jakarta sebagai kota metropolitan yang mengundang orang untuk datang. Daya tarik ibukota Jakarta dengan gemerlap kehidupan sering membuat orang tak mau pulang.

Sejatinya, di balik gemerlap dan modernisasi ibukota terselip kehidupan budaya dan kearifan lokal yang masih tetap terjaga, tak terkecuali peradaban Islam. Meski terus terhimpit gedung pencakar langit dan pusat-pusat perbelanjaan, aktivitas keislaman terus berjalan. Bahkan mampu meredam kehidupan kaum urban yang terkesan glamor di tengah hiruk pikuk Jakarta dengan sederet pilihan destinasi wisata dan hiburan  penunjang gaya hidup.

Memang, selain menawarkan gaya hidup modern, Jakarta juga memiliki banyak bangunan-bangunan tua peninggalan masa lalu. Tak terkecuali, tempat-tempat yang mengandung nilai religi yang patut dikunjungi. Dan keberadaannya kini banyak dijadikan sebagai destinasi wisata syariah bagi para pelancong dari berbagai penjuru negeri, termasuk para wisatawan mancanegara.

Jadi, ketika Anda bertandang ke Jakarta, ada baiknya untuk menjelajahi tempat-tempat yang kini acapkali disambangi para wisatawan, lantaran tidak hanya unik dan menarik, tapi sarat dengan nilai sejarah. Diantaranya adalah;

Masjid Al-’Alam, Marunda

Masjid Al-‘alam Marunda kerap menjadi salah satu destinasi wisata syariah bagi kaum muslim. Bagi masyarakat Jakarta, masjid yang terletak di tepi pantai Kampung Marunda Pulo, Cilincing, Jakarta Utara ini sudah tak asing lagi. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, masjid ini di bangun hanya dalam waktu satu malam. Lantaran berada dalam satu kawasan dengan rumah si Pitung, masjid ini pun dijuluki Masjid si Pitung.

Masjid ini merupakan salah satu bangunan yang pertama kali dibangun oleh Fathahillah, ketika pasukannya sedang menuju wilayah Sunda Kelapa (Jakarta). Di mana kala itu, masjid ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah, tapi dijadikan sebagai markas sekaligus benteng pertahanan pasukan Demak saat menghadapi VOC.

Sepintas memang, bangunan masjid ini mirip dengan masjid-masjid yang ada di daerah Demak. Bentuknya seperti arsitektur rumah joglo dan ditopang dengan empat pilar bulat, persis seperti bidak catur. Di masjid berukuran 10 x 10 meter ini terdapat mihrab yang menjorok ke dalam dan terletak di sebelah kanan mimbar.  Meski kerap mengalami renovasi, tapi masih banyak ornamen-ornamen asli yang dimiliki masjid sejak awal.

Salah satunya yaitu tembok dan hiasan jendela yang terdapat di dekat tempat imam. Kemudian, benda asli yang masih terdapat di masjid ini adalah tongkat ular di samping mimbar yang hanya digunakan oleh sang khatib saat shalat jum’at berlangsung. Selain itu, atapnya hanya setinggi dua meter, kian menambahkan kesan unik.

Masjid Al-Makmur, Tanah Abang

Masjid Al-Makmur terletak di jalan KH Mas Mansyur No 6, Jakarta Pusat. Masjid ini didirikan oleh Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Abdurrachman Al-Habsyi pada tahun 1915. Bangunan masjid ini sebagai pengganti masjid yang sudah dibangun semenjak abad ke 19 di tempat yang sama. Mulanya, masjid ini hanya berukuran 44 x 28 meter persegi, namun pada tahun 1932 dan 1981 masjid mengalami perluasan hingga seperti bangunannya saat ini.

Dilihat dari arsitekturnya, masjid ini perpaduan antara Timur Tengah dan Asia Barat, tapi uniknya bangunan ini diarsiteki orang Belanda. Ornamen Timur Tengah terlihat dari bentuk kubah yang besar dan berwarna hijau serta mengerucut. Sedangkan ornamen Asia Barat tampak dari menaranya yang mengapit tiga pintu masuk. Tahun 1996, masjid ini pernah mendapat perhargaan berupa Sertifikat-Sadar Pamugaran.

Masjid Al-Mansyur, Jembatan Lima

Masjid Al-Mansyur yang terletak di kawasan Jembatan Lima, Jakarta Barat ini menjadi salah satu masjid tua yang ada di Jakarta. Masjid ini didirikan oleh putra Pangeran Cakrajaya yakni Abdul Malik dan dibangun pada tahun 1717 usai berperang dengan penguasa Batavia kala itu. Masjid Al-Mansyur memiliki dua buah menara setinggi 50 meter yang masih tetap berdiri kokoh.

Masjid Luar Batang

Siapa yang tak mengenal dengan keberadaan masjid yang satu ini. Masjid yang selalu ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah, lantaran di dalamnya terdapat makam pemuka agama Islam di Jakarta yaitu Habib Husein  bin Abubakar Alaydrus. Umat Islam Jakarta menyebutnya Habib Keramat Luar Batang. Tak heran bila masjid ini pun dikenal dengan sebutan Masjid Luar Batang.

Masjid yang terletak di wilayah Pasar Ikan, Jakarta Utara ini yang merupakan kawasan untuk pertama kalinya disinggahi Habib Husein. Dulu, kawasan ini menjadi salah satu daerah kekuasaan Belanda yang dijaga ketat. Hal ini tampak dari banyaknya benteng-benteng besar yang dibangun kolonial.

Sementara nama “Luar Batang” diberikan dari cerita warga sekitar tentang kisah pemakaman dari Habib Husein yang keluar dari kurung batang (keranda mayat). Konon, setelah wafat, jenazah Habib Husein ingin dimakamkan di daerah Tanah Abang, namun ketika sudah dipindahkan, jenazahnya kembali lagi ke daerah Pasar Ikan. Kejadian tersebut terjadi hingga tiga kali, hingga akhirnya para jama’ah memutuskan untuk menguburkan jenazah Habib di sana. Jadi jika Anda hendak menyusuri seluk beluk masjid tua peninggalan para ulama, maka ada baiknya untuk berziarah ke makan Habib.

Masjid An-Nawier

Masjid An-Nawier atau kerap disebut dengan Masjid Pekojan merupakan masjid yang berada di pemukiman penduduk keturunan Arab. Masjid yang dibangun oleh penyebar agama Islam keturunan Arab pada 1749 ini memang unik, lantaran sama sekali tidak ditemukan kubah pada atap masjidnya. Masjid An-Nawier terletak di Jalan Pekojan nomor 79, Tambora, Jakarta Barat.

Masjid Al-Anwar

Biasanya, masyarakat menyebutnya dengan nama Masjid Angke. Masjid yang dibangun pada tahun 1751 ini arsitekturnya bergaya Banten lama. Hal ini tampak dari jendela dan mimbar masjid. Meski demikian, tampak pula pada masjid yang terletak di Jalan Pangeran Tubagus Angke, Jakarta Barat ini mendapat sentuhan arsitektur China yang terlihat pada desain pintu masuk, atap bersusun dua dan ujungnya yang menyerupai Klenteng.

Masjid Cut Mutia

Boleh jadi, masjid ini merupakan bangunan tertua di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Memang, lantaran arsitekturnya bergaya art nouveau membuat bangunan ini tak tampak seperti masjid. Dulu, di masa kolonial, bangunan yang terletak di Jalan Taman Cut Meutia ini adalah kantor Jawatan Kereta Api Belanda. Lalu beralihfungsi jadi Kantor Kompetai Angkatan Laut pada masa penjajahan Jepang.

Masjid Istiqlal

Bagi masyarakat Islam Ibukota Jakarta tentu masjid ini sudah tak asing lagi. Masjid yang dalam Bahasa Indonesia berarti “Merdeka” ini dirancang seorang arsitek Kristen bernama Fredrerich Silaban. Rancangan bangunan masjid yang dibangun di atas puing-puing benteng Prins Frederick di bekas Taman Wilhelmina di timur laut lapangan Medan Merdeka ini merupakan hasil karya Fredrerich yang keluar sebagai pemenang sayembara rancang bangunan masjid. Ia pun mendapat hadiah uang tunai sebesar Rp 25.000.

Masjid dengan ruang utama seluas hampir satu hektar ini merupakan masjid terbesar se-Asia Tenggara. Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Tak sedikit masyarakat Indonesia dari penjuru nusantara acapkali menyempatkan diri untuk mengunjungi masjid yang berdekatan dengan Monas ini.

Jakarta Islamic Centre (JIC), Jakarta Utara

Inilah bangunan modern yang tak hanya dijadikan sebagai pusat kajian keislaman, tapi juga menjadi destinasi wisata syariah yang ada di ibukota. Jakarta Islamic Centre (JIC) dibangun pada tahun 2001 oleh Gubernur Sutiyoso. Kehadiran komplek JIC banyak menuai pujian. Pasalnya, lokasi ini sebelumnya merupakan kawasan lokalisasi pelacuran terkenal di Jakarta yang dikenal dengan nama Kramat Tunggak.

Di kawasan JIC ini selain masjid, terdapat pula tiga gedung yang masing-masing digunakan sebagai bisnis center, balai pertemuan, dan hotel. Pembangunan kawasan JIC yang ditanggung oleh Pemda DKI itu menelan biaya sekitar Rp 278 milyar.  (zie)