Tiga Dosa yang Menghancurkan Kemanusiaan

oleh -249 views

Oleh KH Anang Rikza Masyhari*

Tugas utama manusia adalah beribadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala (SWT). Sebagaimana dalam firman-Nya dalam Al-Quran Surat Adz-Dzariyat (51) ayat 56, yang artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.”

Dengan demikian, fitrah makhluk adalah beribadah kepada Sang Khalik; semuanya tunduk kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam. “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS. Al-Isra’ [17] : 44)

Makhluk yang pertama kali berani membangkang adalah Iblis, yaitu ketika Allah SWT memerintahkannya untuk tunduk kepada Adam, ia enggan dan tidak mematuhinya. Iblis merasa lebih baik dari manusia dengan asumsi bahwa ia diciptakan dari api, sedangkan manusia diciptakan dari tanah. Padahal tidak ada satupun penjelasan dari Allah SWT bahwa api lebih baik dari tanah. Karena kesombongannya itu, iblis diusir dari surga dan Allah SWT mengutuknya hingga hari kiamat.

Allah SWT berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud kepada Adam di waktu Aku menyuruhmu?” Iblis menjawab, “aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah.” Allah SWT berfirman: “Turunlah kamu dari surga itu; karena kamu tidak sepatutnya menyombongkan diri di dalamnya, maka keluarlah, sesungguhnya kamu termasuk orang-orang yang hina.” (QS. Al-A’raf [7] : 12-13)

Karenanya, itulah jenis dosa pertama makhluk, yaitu kesombongan. Sejak saat itu, Iblis bersumpah dan meminta izin kepada Allah SWT untuk melakukan ‘balas dendam’ kepada Adam dan anak-cucunya dengan cara menggodanya dan menggelincirkannya ke lembah kenistaan.

Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukumku sebagai tersesat, maka aku benar-benar akan menghalang-halangi manusia dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah SWT berfirman: “Keluarlah kamu dari surga sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikutimu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu semuanya.” (QS. Al-A’raf [7] : 14-18)

Maka, barangsiapa diantara manusia yang masih menyimpan sifat sombong dan takabur, sesungguhnya ia telah mewarisi sifat-sifat iblis. Dan karenanya, ia pun akan mendapatkan kutukan dan siksa seperti halnya iblis.

Makhluk yang kedua yang membangkang atas perintah dan larangan Allah SWT adalah manusia. Yaitu, ketika Adam dan Hawa yang semula tinggal di surga, Allah SWT mempersilahkan Adam dan Hawa untuk makan apa saja yang ada di surga, namun ada satu yang dilarang, yaitu yang disebut dengan buah khuldi. Tapi, justru dengan satu jenis yang dilarang itulah manusia menuruti bisikan iblis, padahal masih banyak yang halal yang lain.

Dan Allah SWT berfirman: “Hai Adam bertempat tinggallah kamu dan isterimu di surga serta makanlah olehmu berdua buah-buahan di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, lalu menjadilah kamu berdua termasuk orang-orang yang dzalim.” (QS. Al-A’raf [7] : 19)

Itulah dosa kedua makhluk: ketamakan. Dan itulah sifat manusia yang buruk. Namun, berbeda dengan iblis, Adam dan Hawa segera menyadari kesalahannya dan memohon ampunan dari Allah SWT. “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf [7] : 23)

Itulah redaksi doa pertama di muka bumi: pengakuan dosa dan permohonan ampunan Allah SWT. Maka, jika manusia melakukan dosa namun tidak mau bertobat dengan penyesalan dan permohonan ampunan-Nya, maka ia pun lagi-lagi mewarisi sifat-sifat iblis yang terkutuk.

Jenis dosa ketiga yang dilakukan oleh makhluk adalah dilakukan oleh kedua anak Adam: Qobil dan Habil. Qobil membunuh Habil karena cemburu, sebab Allah SWT menerima kurban Habil yang dilakukan dengan ikhlas dan penuh ketakwaan, sedangkan kurban dari Qobil ditolak karena pamrih dan tendensius.

“Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia (Qabil) berkata: “Aku pasti membunuhmu!.” Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah [5] : 27)

“Maka hawa nafsu Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu dibunuhnyalah (Habil), maka jadilah (Qabil) seorang diantara orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Maidah [5] : 30). Sejak saat itu sejarah manusia terus diwarnai dengan saling membunuh dan pertumpahan darah. Pangkal pokoknya adalah kecemburuan dan kedengkian satu sama lain.

Karenanya, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam (SAW) berwasiat, “Jauhilah olehmu sifat hasad, karena sesungguhnya hasad itu dapat menghilangkan segala kebaikan sebagaimana api yang membakar kayu yang kering.” (HR. Abu Dawud).

Dan Idul Fitri adalah momentum manusia menegaskan kembali fitrahnya sebagai makhluk yang tunduk dan beribadah kepada-Nya. “Iedul Fitri” artinya kembali kepada kesucian. Kesucian dari sifat-sifat sombong dan takabur. Kesucian dari sifat-sifat tamak dan serakah. Kesucian dari sifat-sifat kedengkian. Sombong, tamak dan dengki adalah pangkal permusuhan dan menjadi sumber malapetaka serta kehancuran di muka bumi ini. (*)