Ini Alasan Pinisi Nominasi Warisan Budaya Dunia Tak Benda

oleh -292 views

BULUKUMBA,Royalnews.co.id – Perahu Pinisi adalah salah satu ikon di Kabupaten Bulukumba Sulsel bahkan Indonesia. Pinisi pun sudah didaftarkan untuk menjadi nomonasi Warisan Budaya Dunia Tak Benda.

Pemerintah Indonesia sebelumnya sudah berhasil mendaftarkan Borobudur, Angklung, Batik, dan Wayang Kulit sebagai Warisan Dunia di UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization). Seni dan teknik pembuatan Pinisi dinilai sebagai budaya warisan dunia yang harus dijaga agar lestari.

Teknik pembuatan perahu tradsional berabad-abad dikembangkan di tiga desa di Bulukumba yakni Ara, Tanah Beru dan Lemo-lemo. Ketangguhan mengarungi samudera adalah bukti bahwa karya yang para Panrita Lopi (ahli perahu) sangat luar biasa.

Baru-baru ini Duta Besar Republik Indonesia Untuk UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization) Prof Tubagus Ahmad Fauzi Soelaiman menyanbangi daerah berjuluk Butta Panrita Lopi (Tanah Ahli Perahu) itu. Pihaknya getol mengawal agar Pinisi ditetapkan menjadi Cagar Budaya Tak Benda (Intangible Cultural Heritage) Warisan Dunia oleh UNESCO.

“Jadi pada tanggal 4-8 Desember 2018 nanti, pihak komite UNESCO akan bersidang di Korea Selatan untuk menetapkan Pinisi sebagai salah satu Cagar Budaya Tak Benda Warisan Dunia. Dalam kegiatan tersebut kami akan mengundang pihak perwakilan Pemkab Bulukumba untuk hadir menyaksikan penetapan tersebut,” ujar Tubagus di hadapan Bupati Bulukumba, Andi Sukri Sappewali 7 Agustus 2017 lalu.

Guru besar ITB itu tak membantah jika pengusulan warisan budaya dunia memakan waktu lama. “Untuk mengusulkan nominasi cagar budaya Indonesia itu prosesnya lama, memakan waktu sekitar dua tahun lebih. Begitu pula untuk tampil di pagelaran di UNESCO, kita akan bersaing dengan 195 negara, dan setiap negara hanya maksimal bisa menampilkan 2 performence,”katanya.

Bupati Bulukumba AM Sukri A Sappewali menyambut baik kedatangan Duta Besar RI untuk UNESCO ini. “Pinisi ini sudah lama dikenal, puncaknya ketika melakukan misi pelayaran ke Vancouver Kanada pada Expo tahun 1986. Sehingga kita berharap Pinisi kita betul-betul bisa diakui sebagai warisan budaya dunia,”pinta AM Sukri Sappewali.

Dilansir dari situs Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemenbud, teknik tradisional “Pinisi” mencakup konsep-konsep canggih dan cetak biru yang menggambarkan bentuk tiga dimensi dari sebuah perahu beserta berbagai macam komponennya. Kapal Pinisi dibuat secara bertahap dengan berbagai ritual. Pembuatan pinisi dilakukan di galangan kapal yang disebut bantilang, yang umumnya dibuat oleh masyarakat Bulukumba, dengan melibatkan puluhan orang. Mereka terdiri dari punggawa (tukang ahli), sawi (tukang-tukang lain yang membantu punggawa), serta calon-calon sawi. Pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan “Pinisi” ditransmisikan oleh orang tua kepada anak-anaknya melalui pembiasaan, pemberian contoh, dan pengulangan. Dimulai dari masa kecil, anak-anak dibiasakan bermain di sekitar bantilang, menyaksikan para Sawi mengerjakan pembuatan perahu, dan sekali-sekali terlibat membantu Sawi melakukan hal-hal sederhana seperti mengambil benda-benda atau peralatan terkait pembuatan perahu. Saat beranjak remaja, anak masih terlibat dalam proses pembuatan perahu dengan pekerjaan yang lebih besar tanggung jawabnya seperti menjaga api (yang digunakan untuk membengkokkan kayu) atau mengambil air. Kegiatan ini dilakukan setelah mereka pulang sekolah. Dengan cara ini diharapkan dalam diri anak tersebut tumbuh kecintaan dan keingintahuan tentang tata cara pembuatan perahu.

Dalam pengetahuan yang diturunkan ini, juga terdapat sistem pembagian kerja dan jenjang karir. Seseorang yang baru mulai bekerja menjadi pengrajin perahu akan memulai karirnya sebagai tukang masak. Setelah itu dia akan naik menjadi tukang bor dan akan naik lagi menjadi pemasang baut dan pasak. Semakin meningkat kemampuan pengrajin, dia akan mulai bekerja menjadi tukang potong kayu. Setelah itu, dia akan menjadi perakit papan. Jika semua sudah dijalani, dengan kemampuannya itu, tidak tertutup kemungkinan menjadi Panrita Lopi. Seorang Panrita Lopi akan mengajarkan kepada keturunannya dan pekerja yang potensial tentang pengetahuan dan keahliannya terkait dengan hal teknis pembuatan perahu maupun mantra-mantra dan ritual.

Fungsi sosial untuk masyarakat saat ini adalah sebagai perekat sosial antar masyarakat dalam desa maupun masyarakat antar desa. Masing-masing kelompok masyarakat memiliki keahlian khusus yang membuat mereka saling melengkapi dalam proses pembuatan perahu yang dilakukan secara bersama-sama dalam sistem gotong royong. Kelompok masyarakat Ara dikenal sebagai Sawi yang handal dan kelompok masyarakat Lemo-lemo dominan sebagai Panrita Lopi.

“Pinisi” juga mempunyai fungsi budaya untuk masyarakat yaitu sebagai penjaga keberlangsungan adat istiadat. Setiap tahap pembuatan perahu selalu terkait dengan kepercayaan yang diyakini oleh masyarakat setempat. Hal ini terlihat dari upacara-upacara yang dilakukan dalam proses pembuatan perahu, seperti pada saat pemilihan kayu, pemasangan lunas, dan pada saat penentuan pusat perahu sebagai pengharapan atas keselamatan perahu dan manusia di dalamnya. Ritual-ritual ini juga memperlihatkan adanya keharmonisan antara manusia dengan manusia. Proses pembuatan perahu merupakan representasi proses kelahiran seorang anak. Diawali dengan pemasangan lunas yang melambangkan bersatunya laki-laki dan perempuan dan diakhiri dengan ritual peluncuran perahu yang melambangkan proses kelahiran anak. Persiapan untuk melakukan pelayaran dan mengarungi samudera bagi perahu ini diibaratkan sebagai orang tua yang mempersiapkan anaknya untuk mengarungi kehidupan.

“Pinisi” memiliki teknologi yang sejajar dengan sistem perkapalan modern. Pencantuman “Pinisi” pada Daftar Representatif UNESCO memberi kebanggaan kepada para pemangku kepentingan dan masyarakat pecinta “Pinisi”. Inskrispi “Pinisi” meningkatkan kesadaran mengenai nilai budaya dan kearifan lokal masyarakat Indonesia serta meningkatkan upaya pelestarian pada tingkat lokal, nasional, maupun internasional, hal ini juga terjadi pada mata budaya lain yang diinskripsi oleh UNESCO. Komunitas dan perajin akan termotivasi untuk lebih giat melestarikan “Pinisi” melalui berbagai program seperti pameran, promosi, dan workshop. Inskripsi ini juga akan meningkatkan kesadaran masyarakat umum dan pemerintah tentang pelestarian warisan budaya takbenda sesuai dengan konvensi UNESCO.

“Pinisi” mempererat hubungan masyarakat Bulukumba pada umumnya dan Bonto Bahari pada khususnya. Di tingkat nasional “Pinisi” merupakan kebanggaan bangsa Indonesia. Ketangguhan pelayaran “Pinisi” telah teruji dengan keberhasilan beberapa misi pelayaran Internasional, antara lain “Pinisi” Nusantara dan “Pinisi” Ammana Gappa yang membawa misi kebudayaan dan perdamaian. Hal ini telah mengangkat citra dan martabat Indonesia di mata dunia. Oleh kerena itu Pinisi kemudian diusulkan untuk menjadi Warisan Dunia Takbenda UNESCO untuk tahun 2017 agar teknologi pembuatan perahu tradisional dengan segala tahapan dan ritual yang tak ada duanya di dunia akan tetap lestari. (Berbagai sumber)