Berkat Sari Aren Manis, Perkelahian Pemuda di Desa Sopa Menurun

oleh -

Bulukumba,- Karang Taruna Desa Sopa Kecamatan Kindang patut diapresiasi dan diberi pujian. Pasalnya organisasi Karang Taruna yang mewadahi para pemuda Desa Sopa mampu melakukan kegiatan positif sehingga kini di wilayah tersebut sudah jarang terjadi perkelahian yang kerap dilakukan oleh kalangan anak muda.

Pemicu perkelahian biasanya terjadi akibat konsumsi minuman keras tradisional yang dikenal dengan “Ballo”. Minuman Ballo mudah didapatkan di desa tersebut karena bahannya dari air pohon aren yang banyak tumbuh di Kecamatan Kindang.

Melihat potensi air Aren di daerahnya, pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna Sopa Bersatu membuat sebuah inovasi dengan mengolah air Aren (tuak manis) menjadi minuman kemasan Sari Aren Manis. Selama ini, kualitas rasa tuak manis hanya bisa bertahan satu sampai dua hari, namun dengan pengolahan dengan cara memasaknya, air Aren tersebut bisa bertahan lebih lama.

Ibarat peribahasa “menyelam sambil minum air”, inovasi tersebut membuka mata para pemuda untuk memulai usaha ekonomi produktif sehingga air Aren lebih bermanfaat daripada menjadi minuman Ballo yang dapat memicu perkelahian sesama warga.

“Air Aren ini kita kumpulkan dari para petani untuk kami olah menjadi minuman Sari Aren Manis, sehingga tidak ada lagi yang tersisa untuk dijadikan minuman Ballo,” ungkap Ketua Karang Taruna Sopa Bersatu, Nasrullah.

Nasrullah menambahkan, sejak dimulai usaha produktif beberapa bulan terakhir, perkelahian antar pemuda juga menurun drastis dan bahkan hampir dikatakan sudah tidak ada. Kini minuman kemasan Sari Aren Manis yang pertama di Bulukumba itu sementara dalam proses pengajuan izin dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Jika izinnya sudah keluar, maka pihaknya siap pasarkan kemana-mana.

Selain menjadi minuman Sari Aren Manis, air aren tersebut juga diolah menjadi cuka yang dapat menambah kelezatan masakan. Bukan hanya itu, Karang Taruna Sopa Bersatu juga mengelola produk makanan cemilan kerupuk singkong. Bahan baku singkong juga banyak ditanam oleh masyarakat Kindang. Kerupuk singkong yang diproduksi tersebut memiliki 5 varian rasa, yaitu manis, keju, asin, balado, dan rasa original.

“Modal awal kami hanya 300 ribu rupiah untuk mengolah singkong ini. Namun saat ini kami sudah memiliki 5 kelompok ibu-ibu yang membantu dalam proses produksi,” beber Nasrullah.

Dengan kegiatan usaha ekonomi produktif tersebut, para ibu-ibu yang selama ini menganggur sudah memiliki aktifitas ekonomi, sehingga Nasrullah berharap usaha bersama tersebut lebih berkembang.

Tertarik dengan usaha yang dirintis Karang Taruna ini, Bupati AM Sukri Sappewali mengunjungi tempat usaha tersebut. Rabu, 27 November 2019. Bupati yang didampingi Kadis Koperasi UKM, Taufik dan Kepala Bank Sulselbar Indra Karlesa mengatakan siap membantu pengembangan usaha yang dilakukan pemuda Karang Taruna ini.

“Saya sangat mengapresiasi para anak muda ini, karena memiliki kegiatan yang lebih produktif sesuai potensi yang dimiliki desanya,” puji AM Sukri Sappewali.

Dalam diskusi dengan Bupati AM Sukri Sappewali, Ketua Karang Taruna Nasrullah menyampaikan kendala yang dihadapi selama merintis usaha tersebut, misalnya kekurangan modal usaha dan kekurangan beberapa alat produksi. Bupati pun meresponnya dengan meminta dinas terkait untuk memberikan pendampingan, baik dalam akses permodalan maupun pemberian bantuan peralatan produksi.

Meski saat ini dalam proses pengurusan izin produk, pihaknya kata Nasrullah sudah menerima banyak permintaan dari beberapa wilayah, termasuk Makassar.