Ini Kata Direktur RSUD Soal Pasien di Ruangan Berkamar Mandi Rusak

oleh -248 views

BULUKUMBA, – Pihak RSUD Bulukumba angkat bicara terkait pelayanan dan fasilitas kepada pasien. Hal itu setelah muncul banyak kritikan, setelah muncul surat terbuka oleh keluarga pasien berisi curhatan setelah keponakan tak mendapat hak pelayanan dan falisitas.

Direktur RSUD H Andi Sulthan Daeng Radja, dr Abdur Radjab, pada Rlrilis Sabtu (11/11/17), mengatakan, telah melakukan pelayanan maksimal. Dia tak membantah jika pasien ditempatkan ke ruangan yang fasilitas tidak layak.

Alasannya karena kamar di perawatan penuh. Sehingga menghindari tumpukan di UGD, pasien bernama Wina Rizkanevia (14) di ditempatkan di ruangan dengan kamar mandi yang kotor.

“Saat itu memang pasien bertumpuk di UGD sampai tidak ada lagi tempat tidur kosong. Sedangkan kamar yang layak pakai di perawatan juga penuh, pasien tidak bisa di bawa ke perawatan, semua stagnan di UGD. Daripada pasien harus bertumpuk di UGD atau tidur di lorong akhirnya kamar yang tidak layakpun (kamar mandi rusak) ditawarkan ke pasien dan keluarga pasien dengan menggunakan toilet lain diluar kamar,” terang dr Rajab.

Soal penanganan pasien, Dr Radjab menjelaskan, jika pasien masuk UGD dengan nyeri perut menurut dari dokter Puskesmas usus buntu kata keluarganya. Namun, berdasarkan hasil pemeriksaan dokter UGD dan hasil pemeriksaan laboratorium tidak mengarah ke usus buntu sehingga dikonsultasi ke penyakit dalam dan sudah dirawat dan diberi pengobatan sesuai penyakitnya.

“Hanya kolik abdomen dan pasiennya tidak mengeluh sakit dan dokter ahli tidak merasa perlu pemeriksaan USG. SPO sudah sesuai perosedur dan tidak membedakan pasien. Adapun pasien dititip sementara di ruang perawatan Kelas 3 karena keterbatasan kamar,” ungkapnya.

Lebih jauh dia menjelaskan, pasien masuk IGD tanggal 9 Nopember 2017 pagi, setelah lengkap pemeriksaan dan konsultasi dokter ahli penyakit dalam, pasien baru dipindahkan keperawatan kelas 2 sekitar jam 15.00 sore hari.

Lanjut dr. Radjab, sebagai bahan pertimbangan bila ada pertemuan IDI mohon disampaikan kepada para TS di Puskesmas agar tidak menjanjikan jenis- jenis pemeriksaan yang akan dilakukan di rumah sakit. “Sering kita terjepit karena pasien memaksa untuk diperiksa ini dan itu sesuai pesanan dokter Puskemasnya, padahal tidak ada indikasi,” tegasnya.

Pihak dokter umum dan dokter spesialis RSUD H.Andi Sulthan Daeng Radja mengemukakan, pasien merasa tidak terlayani karena obatnya melalui infus yang diberikan sesuai intruksi dokternya. Sehingga Dr Rajab membantah jika pasien tidak dilayani oleh dokter.