Manajemen Bobrok, Aktivis Mahasiswa Minta Direktur RSUD Bulukumba Dievaluasi

oleh -11.650 views

BULUKUMBA – Geram dengan banyaknya keluhan terhadap bobroknya pengelolaan RSUD Sultan Daeng Raja, Bulukumba, aktivis mahasiswa Bulukumba angkat bicara. Sekertaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bulukumba, Ar Ebyt Supadi meminta agar manajemen RSUD Bulukumba dievaluasi.

Menurutnya pengelolaan yang tidak progesional membuat pelayanan bobrok. Sehingga katanya pasien menjadi korban. “Seharusnya pasien ke RSUD untuk berobat agar sembuh. Tapi kebanyakan mengeluh malah tambah menderita fisik dan batin,” katanya. Belum lagi kata Dia, perawat yang kerap tak bersahabat.

Olehnya itu kata Ebit, manajemen rumah sakit harus profesional. Jabatan penting sesuai bidang dan pengalaman. “Sangat disayangkan, ini sudah sering terjadi manajemen yang tidak diisi dengan orang tepat. Sehingga kami mendesak direktur RSUD Bulukuma agar dievaluasi kenerjanya, begitupun dengan dewan pengawas,” tegas Ebit.

Dampak dari bobroknya manajemen kata Ebit juga berdampak pada telatnya pembayaran jasa dan insentif pegawai. “Saya mendapat laporan ada sisa pembayaran Jamkesda 2016 belum dibayar. Insetif jaga sore dan malam mulai Januari 2017 juga belum. Terakhir Remonisasi klaim uang jasa RSUD ke BPJS yang menunggak 3 bulan terakhir,”bocor Ebit kepada waratawan Jumat 10 Nopember 2017.

Sorotan terkait bobroknya pelayanan RSUD heboh setelah sebuah surat terbuka beredar di media. Keluarga pasien bernama Wina Rizkanevia (14) mengeluhkan pelayanan hingga fasilitas RSUD Bulukumba.

“Kasihan, sejak kemarin diopname belum ada satupun dokter yang periksaki. Jangan kan periksa jenis dokternya pun belum jelas,” ungkap Suparman, Paman Pasien, Jumat (10/11/17).

Wina dirawat di perawatan 2 Ruang Flamboyan dengan status pasien BPJS kelas 2. Hanya saja sejak ia masuk pada Kamis (8/11/17) hingga Jumat (9/11/17) tak satupun dokter memeriksa konsidinya.

“Hari ini dokter yang ditunggu sejak kemarin belum datang datang padahal ponakan saya mau di USG karena diagnosa usus buntu. Katanya kalau hari Jumat biasa tidak adami dokternya,” ungkap Suparman lagi.

Parahnya, Wina yang didiagnosa menderita usus buntu, sempat ditelantarkan pihak RSUD di kamar kelas 3 padahal ia merupakan pasien BPJS kelas 2. Pihak RSUD beralasan ruang perawatan sedang penuh, lalu soal dokter jika Hari Jumat memang biasanya tidak masuk.

“Ini RSUD Sultan Dg Radja cantik di luarji, tapi pelayanannya begitu begitu ji juga. Kemarin ponakanku diopname BPJS kelas 2 tapi dibawa ke kelas 3, alasannya tidak ada kamar. Pas ngotot ternyata masih adaji 2 ranjang kosong kelas 2. Alasannya lagi rusak toiletnya dan mau runtuh plafonnya,” keluh Suparman.

Mirisnya, melihat kondisi ini, pihak RSUD dan bagian pengawasan terkesan cuek. “Susah saya laporkan ke dewan pengawas juga namun belum ada respons. Memang dari dalam rumah sakitnya yang sakit kayaknya ini,” kunci Suparman.