Di HKN 2017, Pelayanan RSUD Bukukumba Dipertanyakan

oleh -224 views

BULUKUMBA – Di RSUD Bulukumba kembali menjadi sorotan masyarakat di Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2017. Hal itu terkait pelayanan RSUD kepada pasien yang dinilai tidak profesional.

Padahal RSUD Bulukumba sudah menjadi RS type B yang tentu kepercayaan atas kinerja dan profesional tak diragukan. Keluarga pasien pun menulis surat terbuka yang diterima redaksi Royalnews Online.

Berikut isi surat terbuka yang berjudul “Hadiah RSUD Sulthan Dg Rajda di Hari Kesehatan Nasional” itu.

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Saya ingin sedikit bercerita pengalaman soal pelayanan di RSUD Sulthan Dg Radja. Rabu 8 November, ponakan saya Wina Rizkanevia usia 14 tahun didiagnosa mengalami usus buntu oleh dokter di Puskesmas Ujungloe. Oleh dokter setempat ponakan saya dirujuk ke RSUD Sulthan Dg Radja untuk penanganan medis lebih lanjut. Namun karena saat itu sudah pukul 13.30 Wita, pelayanan di poli bedah RSUD Sulthan Dg Radja sudah tutup, resepsionis menyarankan untuk kembali besok pagi dan mengantre bersama pasien lain.

Keesokan harinya, Kamis 9 November, pagi-pagi oleh kedua orang tuanya Herman dan Ramlah, ponakan saya diantar untuk memeriksakan kondisinya. Oleh dokter dia kemudian dirawat di IGD sembari menunggu hasil diagnosa selanjutnya. Hasilnya ponakan saya harus diopname. Siang menjelang sore, perawat IGD kemudian menyampaikan kamar perawatan sudah siap sesuai kartu kepesertaan BPJS kelas II.

Namun saat tiba di kamar perawatan II rumah sakit, perawat kemudian memasukkannya ke kamar perawatan kelas III. Saya dan orang tuanya tentu bertanya, kenapa bisa? Jawaban perawat, katanya kamar kelas II penuh. Ini tentu lucu, karena setahu saya aturan BPJS kalau kamar perawatan tidak tersedia sesuai dengan kelasnya, pasien berhak mendapatkan kamar satu tingkat di atasnya.

Lama berdebat, perawat kemudian mengaku sebenarnya masih ada kamar kelas II yang kosong tapi toiletnya rusak, closed-nya buntu, plafonnya mau runtuh. “Adaji kamar kosong pak tapi tidak baik toilenya, rusak plafonnya mau runtuh. Closednya juga kadang tidak mau turun airnya. Kalau maujaki, coba kita lihatmi dulu,” ucap sang perawat wanita.

Kami memutuskan untuk memeriksa kondisi kamar yang dimaksud, dan ternyata ternyata benar masih ada dua ranjang pasien yang tampak kosong. Satu ranjang sudah ada pasien yang menempati. Kami memeriksa kondisi toilet, memang sesuai dengan deskripsi sang perawat.

Sebenarnya miris melihat kondisinya, tapi mau apalagi, tidak ada pilihan lain terpaksa kami terima. Oleh perawat pihak keluarga pasien kemudian diminta menandatangani surat yang katanya sebagai pernyataan siap menerima risiko jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan pada pasien. Sekali lagi, tidak ada pilihan lain terpaksa ditandatangani.

“Kalau maujaki pak, ada surat pernyataan yang kita tandangani pak. Siapa tahu terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sama pasien,” tambah sang perawat sembari menyodorkan surat tersebut.

Singkat cerita, kalau pasien atau pun keluarga pasien ingin buang air terpaksa ke kamar lain. Tapi sudahlah, itu sudah risiko yang sudah kami maklumi dari awal. Hari kedua, Jumat 10 November, pertanyaan dari keluarga kembali muncul ketika hingga sore tidak satupun dokter yang pernah datang memeriksa kondisi sang pasien.

Parawat beralasan, dokter sedang melayani pasien di ruang poli hingga siang hari. Namun ditunggu hingga sore, perawat beralasan lagi dokter kemungkinan ke ruang perawatan lain memeriksa pasien lainnya.

“Iya sabarmaki pak, mungkin ke seruniki dokternya memeriksa. Tapi biasanya kalau Jumat tidak adaki dokter ahlinya, tapi adaji dokter lain. Tapi biasanya pulangki dulu istirahat,” ucap perawat jaga saat ditanya.

Mendengar penjelasan tersebut, ada perasaan sedikit kecewa dan dongkol. Tapi sebagai masyarakat biasa, apa yang bisa kami lakukan. Bisa saya bayangkan bagaimana dengan ratusan pasien lainnya yang mungkin kondisinya lebih parah dari ponakan saya. Saya kemudian teringat dengan sejuta komentar miring dan keluhan tentang pelayanan di rumah sakit kebanggaan masyarakat Bulukumba ini.

Sungguh miris…

Ttd

Keluarga Pasien